Akhir tahun pelajaranpun tiba.
Sekolahku selalu mengadakan acara prom.
Kayak pesta dansa buat kelulusan kelas 3 SMA gitu. Tapi semua angkatan dari
SMP-SMA boleh ikut. Jas, dress,
cocktail, kakak kelas yang cakep, raja dan ratu tahun ini, dansa, UWAAA! Semakin memikirkannya aku semakin gemes
pengen cepet-cepet pesta itu diadakan.
Suatu pagi, aku dan Nira berangkat
bareng. Sewaktu dateng, mading sekolah udah dikerumuni siswa-siswa. Aku dan
Nira langsung bertatapan tanda nggak ngerti ada apa dan menghampiri mading itu.
Aku dan Nira langsung berdesak-desakkan dan akhirnya dapet tempat di depan buat
baca madingnya.
“Prom
2012. Be Prince and Princess!” Baca
Nira.
“Prom
kali ini kayak Halloween. But just Prince
and Princess. Jadi harus pake kostume Prince
and Princess. Jas dan dress juga
nggak masalah pokoknya nggak jauh-jauh banget dari image Prince and Princess. Selain itu nggak boleh ikut!” Bacaku
“Prom kali ini harus dateng bareng
pasangan. Couple gitu. Yang nggak
punya pasangan juga nggak boleh dateng! Pasangannya boleh sekelas, seangkatan,
beda angkatan, ato beda sekolah, NGGAK MASALAH. Yang penting ada pasanagannya
biar nggak jealous sama couple-couple yang lain.”
“Prom diadakan di Hall. Tanggal 31 April 2012. Jam 5 sore
sampe 12 malem. On time!”
“Bakalan ada King and Queen of School, pesta dansa, dan berbagai acara menarik
lainnya.”
“So
don’t miss it! See you at our party! And.. BE PRINCE AND PRINCESS!!”
Begitu selesai baca, aku dan Nira langsung
teriak dan loncat-loncat gak jelas. Soalnya kami udah nunggu-nunggu banget
acara ini. Di sepanjang perjalanan kami membahas acara itu.
“Eh kan hari ini tanggal 24 April.
Berarti…” Kata Nira.
“BERARTI H-7!!” Teriakku dan Nira
“Kamu mau pasangan sama siapa?”
Tanyaku
“Nggak tau. Siapa yang ngajak dan
cocok aku terima.”
“Kamu enak banyak yang suka. Aku
siapa coba?”
“Gimana kalo…. Dia?”
“Eh! Gimana caranya? Diakan nggak
mungkin ngajak aku.”
“Ya kamu lah yang ngajak dia.
Emansipasi gitu.”
“Gitu ya? Temenin tapi.”
“Iya-iya.”
“Kalo gagal gimana?”
“Ya udah. Nanti aku cariin deh.”
Sewaktu istirahat aku dan Nira
menuju lorong kelasnya. Untung dia sedang sendirian. Aku langsung
didorong sama
Nira dari belakang.
“Ehm, kak? Ikut prom besok nggak?”
“Ikut. Kenapa?”
“M… mau nggak jadi couple-ku?”
“Boleh deh. Aku juga belom punya
pasangan.”
“Oke deh. Makasih ya kak.”
Aku langsung berlari ke tempat Nira
dan high five bareng. Rasanya aku ingin loncat setinggi-
tingginya dan teriak
sekeras-kerasnya. Tanpa kusadari akan ada 1 hal yang akan membuatku hancur.
“Hei! Tadi itu siapa?” Tanya
temannya.
“Gak tau juga. Tapi mukannya
familiar. Ngajakin ke pesta prom.”
Jawabnya.
***
1 Hari sebelum pesta Prom…
Nggak kerasa udah 1 hari lagi acara
yang aku tunggu-tunggu dateng! PROM!
Yeay! Apalagi aku datengnya sama dia! Aduh, gimana ya nanti kalo aku nervous trus jadi salting terus dianya
ilfil sama aku. Aaaa! Oke Mitha. Tenang. Huft! Lupakan dirinya. Pikirkan hal
yang lain. Oke. Ngomong-ngomong aku besok pake apa ya? OMG! Aku belom nyari
gaun yang keren buat mukau si dia. Dia lagi dia lagi! Stop it Mitha! Aku langsung membuka lemari bajuku dan
mengeluarkannya satu-persatu. Sampai lemariku kosong melompong aku juga belom
nemuin gaun yang klop sama hatiku. Akhirnya aku nelpon Nira.
“Hey ho Mitha! What’s happened?” Tanya Nira
“Aduuuh Nir! Gaswaaattt!
“Ada apa sih? Gempa? Tsunami?
Kebakaran? Banjir? Ato ada kucing tetangga yang lagi beranak?”
“Ish! Nira! Serius ini!!”
“Aku juga serius! Terus napa?? Apa
yang gaswat?”
“Sampe sekarang aku belom nemuin
baju yang cocok buat besok.”
“Halah gitu aja kok dibilang gaswat.
Ya udah kamu tenang aja. Besok aku bawain baju yang
dijamin cocok buat kamu.
Ok?”
“Semoga.”
“Ya udah ah. Aku mau
browsing-browsing lagi. Byee!”
Nirapun mengakhiri perbincangan kami
dengan meninggalkan sejuta kegalauan untukku. Hufttt, gini
deh susahnya punya
sahabat yang nggak peka. Semoga pilihan Nira tepat deh jadi besok aku kelihatan
cantik.
***
Di pagi buta, tahu-tahu Nira udah
dateng ke rumahku dengan membawa koper besar. Bibi terheran-
heran saat Nira
masuk dan langsung menerobos ke kamarku. Aku yang masih memimpikan dia langsung
terbangun gara-gara cubitan mautnya.
“Hei, putri tidur! Bangun woy! Butuh
nggak nih! Susah lho bawanya.”
“Iih! Apaan sih nganggu aja. Baru
jam berapa nih? Libur juga.”
“Jam 10 tau! Udah ayo bangun! Kalo
nggak bangun-bangun aku pulang lho. Biarin aja kamu pake
baju yang norak. Aku
nggak mau tau. Ya udah. Bye”
“Eh!! Iya-iya. Aku mandi dulu.”
Aku langsung menyambar handuk dan
masuk kamar mandi. Secepat kilat aku gosok gigi dan mandi
bebek. Tak kurang
dari 10 menit, aku sudah keluar dari kamar mandi.
“Gila lu! Mandi apaan tuh?”
“Ah bodo! Udah ayo cepet bajunya
mana?”
“Nih-nih!”
Dari saat itu hingga jam 3 sore, aku
dan Nira mempersiapkan penampilan kami untuk pesta prom nanti. Untung Nira udah
bawa bajunya kalo nggak bisa-bisa kami telat datengnya. Aku pake gaun selutut
berwarna biru dan Nira pake gaun putih selutut juga. Kami terlihat cantik saat
berkaca di cermin. Setelah puas
mengagumi, kami segera berangkat naik mobil Jazz birunya Nira. Sayangnya jalan
macet, karena jam-jam pulang kantor.
Akhirnya kami sampai sekolah jam 4
sore. Kebangetan deh macetnya! Aku langsung mencari sosok
dia. Dan kutemukan di
sudut ruangan sedang menikmati Coca Cola dalam gelas kecil.
“Hai kakak! Maaf, lama nunggunya
ya?” Tanyaku
“Eh! Ah nggak kok. Toh acaranya juga
belom mulaikan? Santai aja.” Jawab dia.
Uwaaa. Suaranya menggetarkan
Serak-serak basah gitu. Kenapa jadi lebay ya? Ah bodo, yang penting seneng! Dia
menggunakan setelan jas biru kelam yang menutupi kemeja putih polosnya dipadu
dengan celana jeans. Keren sekalii! Tiba-tiba Nira dengan Gio - salah satu
penggemarnya yang beruntung menjadi pasangan Nira – mendatangi kami dan merusak
acara mengagumi dia .
“Hai Mithaa! Halo kakak! ” Kata Nira
sambil memasang wajah tak bersalah.
“Halo Nira.” Sapaku sambil memasang
tatapan mengganggu-saja-kamu-itu. Tapi Nira mengabaikan tatapan menusukku.
“Hola halo kawan-kawan semuaaa! Kakak-kakak
dan adik-adik! Gimana? Udah ngicipin makanan yang ada?? Enakkan? Sapa dulu yang
bikin??” Sapa Meg, kakak kelas 2 SMA yang terkenal supel, populer, dan cantik
karena dia blasteran Inggris-Korea-Jawa.
“Emang sapa yang bikin? Kamu?” Tanya
Stef, kakak kelas 3 SMA, kapten tim basket yang baik
hati dan berotak encer.
“Cateringnyaa” Jawab Meg sambil memamerkan
deretan giginya yang putih dan rapi.
“Heee. Aku pikir kamu. Ya udah kita
mulai aja acaranya. Welcome, friends!! Welcome to our
prom party. Be Prince and Princess!!” Sapa Stef
yang langsung disambut tepuk tangan meriah.
“Oke acara pertama. Kontes Dansa.
Yang mau ikut masuk ke lantai dansa bareng pasangannya terus dansa sesuai lagu
yang bakalan kami puter.” Kata Meg.
“Em. Kakak mau ikut?” Tanyaku.
“Boleh.” Dia langsung menggandeng
tanganku dan memasuki lantai dansa. Seketika tubuhku
rasanya pengen loncat dan
teriak sekenceng-kencengnya.
“Oke. Ready? Set? GO!” Teriak Stef dibarengi bermainnya
lagu bertempo cepat yang aku nggak
tau judulnya cuma enak didenger.
Dia langsung mengajakku menari
sesuai tariannya. Dan sampai lagu berakhir kami terus menari hingga rasanya
lantai dansa itu milik kami sendiri.
“Kakak pinter nari ya.” Pujiku
setelah kami selesai nari bareng.
“Ah, nggak juga.”
“Ok, guys! Lets check who is in final round. And here is it! Nira and Mitha with their couple!
The winner is will be our King and Queen of
School! Congratulation and good luck
in final round!”
Kata Meg.
Kami langsung bertukar senyum. Nira
langsung loncat-loncat sambil memeluk leher Gio. Lebay sekali. Gionya sih
seneng-seneng aja keliatannya. Tak berapa lama ronde finalpun dimulai. Stef dan
Meg memanggil kami untuk kembali ke lantai dansa. Kami langsung bersiap-siap.
Ternyata lagu yang diputer lagunya Adele – Someone Like You. Lagu yang enak
didenger meskipun lagu galau. Kami langsung sibuk nari sendiri. Dan akhirnya
lagunya selese dan kami harus mengakhiri dansa kami.
Aku langsung menghampiri meja
minuman dan mengambil segelas Fanta merah. Nirapun mendatangiku dan mengambil
segelas Coca Cola.
“Hei! Gimana dansa bareng dia? Asik?”
Tanya Nira setelah meneguk minumannya.
“Asik. Dia pinter nari.” Jawabku.
“Jelas. Narinya sama dia sih. Coba
nggak sama dia paling-paling kamu langsung pulang. Hahaha!” Sindir Nira.
“Iih! Kok kamu tau sihh? Akukan jadi
malu.”
“Udah keliatan banget tuh. Tadi kamu
narinya sambil merem. Menjiwai sekalii.” Sindir Nira lagi membuat wajahku
semerah tomat karena malu.
“Hei Kawan! Minta perhatiannya
sebentaaar! Kita mau masuk acara terakhir sekaligus yang paling utama. Yaitu….
Pengumuman King and Queen of School!! Ayo-ayo Nira dan Mitha beserta pasangannya
majuu.” Kata Stef
Aku, dia, Nira dan Gio langsung maju
ke panggung. Lampu silih berganti menyoroti kami. Hatiku langsung dag-dig-dug.
“The
winner is….. Mitha and her couple!! Congratulation!”
Teriak Meg langsung memberikan
mahkota dan buket bunga pada kami dan menyalami
kami.
“Dan berakhirlah pesta prom kita pada
malam hari ini. Sampai jumpa tahun depan dan… Be Prince and Princess!” Salam Stef dan Meg
Semua langsung bubar kecuali aku dan
dia. Begitu sampai di pintu keluar dia memanggilku.
“Mit, aku mau ngomong.”
“Ya ngomong aja, kak.”
“Tapi janji jangan marah ya.”
“Iya, kak.”
“Sebenernya aku mau jujur. Waktu
kamu minta aku jadi pasangan kamu, aku nggak kenal kamu sama sekali. Nama kamu
aku nggak tau, kamu kelas berapa aku nggak tau. Tapi berhubung aku juga belom
punya pasangan, akhirnya aku mau-mau aja.”
PLUK! Buket bunga yang tadi masih
aku pegangpun jatuh. Hatikupun remuk seketika. Aku langsung berlari
meninggalkan dia dengan perasaan kecewa. Satu-persatu air mataku bergulir
keluar. Aku tak bisa menahan air mataku yang terus bergulir dan akhirnya jatuh
seperti hatiku yang jatuh dan remuk. Aku langsung memberhentikan taksi yang ada
di dekat gerbang sekolah dan langsung naik. Aku memang tidak terlalu
mengharapkan dirinya. Tapi aku tak bisa menahan rasa sakit ini. Aku kecewa padanya.
***The End***