***
Mitha Angel. Just that. Nama yang sangat biasa sekali. Tapi keliatannya nama itu
terlalu berat buat aku. Mukaku nggak secantik malaikat. Hatiku nggak sebaik
malaikat. Sifatku nggak selincah atau seatraktif yang kalian bayangkan. Aku
nggak seramah dan punya banyak teman. Bahkan jauh dari itu. Aku hanya seorang… NERD. Gara-gara orang tuaku sibuk setiap
hari harus kerja, kebutuhanku hanya dipenuhi yang bagian materi bukan kasih
sayang. Jadilah aku mencari duniaku sendiri yaitu dunia buku. Setiap hari aku
selalu membawa buku. Apapun itu jenisnya. Entah komik, entah novel, entah
cerpen. Tapi satu jenis yang TAK PERNAH aku sentuh sedikitpun. Yaitu… buku
pelajaran. Kutu buku tak selalu
pintarkan? Karena buku pelajaran nggak bisa bikin imajinasi yang keren. Aku
hanya punya 1 teman yang sangat-sangat dekat. Agak mengerikan ya? Tapi itulah
aku. Nggak banyak yang bisa ngerti setiap tingkahku yang aneh ini. Aku aja
bingung dari kapan aku jadi gini…. Aku selalu down setiap orang yang tertawa setelah melihatku atau ngobrol
denganku. Atau aku kege-eran? Auk ah gelap! Oke aku mulai benci membicarakan diriku ini. Aku tau kok aku ini jelek nggak usah diungkit-ungkit lagi! Sekarang aku ada di kelas 8 sebuah sekolah internasional bernama Indonesian International Junior and High School. Ya SMP dan SMA dijadiin satu. Dan di sekolah itu kisah cintaku berawal. O iya ngomong-ngomong 1 temen yang paliiiiing deket dan lengket banget kayak surat sama perangko denganku adalah Nira. Nira itu cewek yang semua sifatnya kebalikan denganku. Aku mulai kenal dia saat aku pertama masuk di sekolah itu. Aku yang nggak punya temen, duduk tanpa mengajak temen sebelahku ngomong. Karena duduknya diatur sesuai absen, jadi aku sebelahnya Nira. Aku 23 dia 24.
“Hai! Namaku Nira. Nira Natalise. Mau nggak jadi temenku?” Kata Nira sambil ngulurin tangan kanannya.
Sontak aku kaget karena nggak pernah nyangka bakalan ada yang ngajak kenalan sama aku. Secara taulah gimana aku yang pendiem dan nerdy abis.…
“Eh?! Oh. Ya. Na… Namaku Mitha. Mi… Mitha Angel. Sa… salam kenal.” Jawabku terbata-bata sambil nyambut tangan kanannya.
Setelah itu kami sering ngobrol bareng, jalan bareng. Akhirnya kami jadi deket dan jadi sahabat. Kami selalu jadi pendengar yang baik, selalu jadi penyimpan rahasia yang baik, pokoknya kayak sahabat sejati deh! Aku kadang juga bingung. Kok bisa ya, aku jadi sahabatnya Nira? Padahal sifat kami berbeda jauh. Mungkin kami saling mengerti dan melengkapi ya? Hahahahaha! Kayak suami istri aja! Tapi aku masih normal kok! Tenang sodara-sodara! Masih ada kesempatan untuk menjadi pendamping hidupku kok! Hehehehe.
Udah ah! Serius nih! Oke. Sebenernya…. Uhm…. Kamu bisa jaga rahasiakan? Oke. Aku anggap semua jawabanmu artinya iya. Sebenernya… aku suka seorang cowok. Nggak usah kaget! Manusiawikan aku suka seseorang. Kutu buku gini juga manusia lho…. Dia lebih tua 3 tahun dariku. Masih 1 sekolah denganku. Dia pinter main musik. Hampir semua alat musik bisa dia mainin. Pernah sekali aku memergoki dia lagi main saxophone-nya sekolah di Music Room saat aku jalan ke kelas abis minjem buku di perpus. Aku langsung jatuh cinta sama permainan musiknya. Mukannya memang nggak terlalu keren. Yah kalo disuruh nilai kegantengannya dari 1-10, aku kasih 8 deh. Nyaris sempurna. Selera humornya juga tinggi. Sayang dia nggak ramah sama orang yang belom dia kenal. Hanya hal itu yang menjadi nilai minus di antara nilai plusnya. Tapi dia tetep populer dan punya banyak temen. Dan hal itu yang bikin aku mengenal kata galau.
Suatu kali, aku lewat di lorong kelas 11. Saat itu aku mau ke kantin beli camilan sambil nyusul Nira di kantin. Begitu aku lewat aku melihatnya melihat ke arahku! Aaaa! Rasanya hatiku meloncat keluar. Aku langsung jalan cepet ngelewati dia. Setelah dirinya lewat, aku langsung senyum-senyum nggak jelas. Sampe Nira bingung sama sikapku yang nggak biasa itu.
“Heh, napa lo? Kesambet setan sekolah ya?”
“Eh! Ah nggak! Nggak papa kok…. Hehehehe! Lagipula mana ada setan di siang bolong gini?”
“Iya juga sih…. Ya udah ah! Laper. Jajan yuk.”
Setelah hari itu, aku semakin sering memikirkanya. Nggak pagi, nggak siang, nggak sore, nggak malem, selalu dia tu kebayang terus. Karena nggak punya temen banyak, akhirnya aku punya cara tersendiri mencari hal-hal tentang dia. Bukan jadi stalker! Tenang, aku nggak bakat jadi kayak gitu. Aku add Facebook-nya. Aku follow Twitter-nya. Dari situ aku bisa dapetin info-info tentang dirinya. Walaupun kadang jam online kami berbeda. Nggak kayak stalker-kan? Oke Facebook sukses. Tapi Twitter tidak. Dia tidak mem-follow back aku. Aku mulai mikir kenapa dia nggak nge-folback aku?
Perasaan itu kian hari kian bertambah. Saat ia mulai menyapa temen cewek sekelasku. Ya mungkin aku agak ngertilah karena kakaknya sekelas dengannya. Tapi… kenapa harus dia? Kenapa nggak aku? Mulailah sifat kege-eranku muncul. Muncul suatu pertanyaan dari benakku. Memang, siapa aku? Sampai dia nyapa aku. Di samping kege-eranku rasa downkupun muncul. Hari-haripun aku lalui dengan uring-uringan. Pertanyaan itu selalu muncul dibenakku. Nira yang dari awal udah bingung sama sikapku tambah bingung dengan aku yang tiap hari uring-uringan.
“Kamu tu napa sih, Mit? Tiap hari uring-uringan. Diajak ngobrol nggak niat, diajak bercanda kamu nggak ketawa, diajak curhat kamu malah bengong. Kamu napa sih? Cerita aja sama aku. Kitakan BFF alias Best Friend Forever.” Protes Nira.
“Entahlah Nir. Aku juga bingung sama diriku sendiri. Sejak dia hadir dalam hidupku, dia mulai mengobrak-abrik hidupku yang tadinya kutata rapi.”
“Uweseh, bahasamu Mit. Puitis amat. Oke. Dia itu siapa?”
Aku mulai menceritakan setiap masalahku pada Nira. Dari awal hingga akhir. Nira nggak sedikitpun memotong ucapanku atau mengalihkan perhatiannya.
“Ooh gitu. Artinya kamu lagi galau, Mit…. Ciee Mitha lagi galau nih.” Candanya abis aku curhat. Aku hanya membalasnya dengan cemberut.
“Eh eh! Jangan marah! Tapi aku juga nggak tau solusinya Mit. Maap banget ya.”
“Iya nggak papa kok Nir. Sekarang aku udah agak lega. Tapi tetep kepikiran.” Kataku sedih.
Nira hanya menepuk-nepuk bahuku dengan lembut. Yah, dia memang teman terbaik yang aku punya. Sejak hari itu aku tetap menanti tiap tweet-nya, statusnya. Dan tetap menanti dirinya menyadari kehadiranku. Dari situlah aku mengenal kata GALAU.
***THE END***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar